Senin, 22 Agustus 2011

my experience

hy salam kenal bagi orang yang membaca posting ini, namaku ritha dillah, sekarang saya bekerja di Dinas Kehutanan Jeneponto sebuah kabupaten yang berada di Propensi Sulawesi Selatan.    Awalnya dengan bergabung dengan dinas saya dapat melakukan banyak hal dengan hutan, rehabilitasi atau apapun yang berhubungan dengan kegiatan penanaman pohon  ternyata gak semudah yang kukira.dengan kemauan gak cukup, ada banyak aspek yang jadi penghalang (saya fikir begitu)

Saya punya pengalaman sebagai anggota LSM bidang lingkungan, sewaktu itu saya harus tinggal dan berhubungan langsung dengan masyarakat hutan, yang kulakukan cukup banyak (mengajarkan cara membuat pembibitan dengan memanfaatkan benih2 yang ada disekitar, menanam tanaman hias bahkan mengajarkan tulis serta membaca), dari situ saya banyak berharap jika saya bisa bergabung dengan kementerian or pemda kehutanan saya harus lebih banyak berbuat dari pada sebelumnya. Ternyata tidak, di kantor ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan (eksternal dan internal).  Saya  terhitung masih baru, gak boleh banyak tingkah (ini saja sudah banyak yang bilangi kalo saya blagu)..aneh, sewaktu ingin melakukan namun ide kreatif harus terkung-kung dalam hati hanya karena “masih staf baru dan perempuan” pikirku.  Sudah banyak program yang berjalan di kantor ini, saya hanya di fungsikan saat tanda tangan SPJ (namaku digunakan karena saya memiliki titel S.Hut mungkin!!!!), lumayan juga gak perlu banyak berfikir dan kerja tapi bisa nikmati duit negara, itu pikirku.  Tapi dengan melihat realita dan pengalaman saya kadang berfikir, untuk saya gak perlu di manjakan seperti ini cos saya bisa bekerja, berkompeten tuk melakukan sebuah kegiatan tapi saya harus bicara dengan siapa di kantor dengan masala hati ini .

Tahun pertama setelah dikukuhkan sebagai PNS saya bergabung dengan bidang program, disini saya banyak mengambil dan mengunpulkan artikel tentang perencanaan di bidang kehutanan yang sesuai dengan konddisi hutan di kabupaten ini (saya juga bigung ini hutan atau kebun), ternyata pemahaman saya tidak sama dengan kepala seksinya, hufftttt harus banyak mengalah untuk bekerjasama dengan beliau so disini saya dipekerjakan sebagai “tukang ketik”. 

Tahun kedua, saya memutuskan tuk pindah bidang, saya berahli dengan perkebunan dengan berharap ada program yang melibatkan saya dilapangan dan menggunakan keterampilan yang saya miliki (maklum masih hangat praktek n teori dari kampus) ternyata saya salah masuk ruangan, saya hanya sebagai tenaga administrasi yach paling tidak saya banyak belajar menyusun RKA,  menyusun dan merekap CPCL (mengetik nama-nama petani dan lahan).  Kerja keras dan saya ditantang dengan pekerjaan di atas meja yang tak mengenal waktu (saya pernah dalam sebulan gak keluar rumah hanya karena mengerjakan pekerjaan administrasi dan keuangan selama sebulan dan ke kantor[un saya jarang sekali).  Banyak berharap dengan kerja keras saya bisa mengumpulkan pundi-pundi tuk lanjut kuliah (namanya juga banyak program so pengharapan tingkat kemakmuran pun meningkat, kenyataanya tidak seperti itu, banyak staf lain yang menarik diri di seksi ini karena gak bisa bekerjasama dengan kepala seksinya (kata orang “kurang bagi-baginya”). APESSSSS sudah tapi kata sahabat saya “ ambil hikmahnya saja “

Ini tahun ketiga saya di dinas ini, saya pun menghadap ke sekretaris tuk dipindahkan ke bidang kehutanan dengan seksi apapun asal ada yang tampung saya, sekretaris[ung menunjuk seksi pengamanan dan pengawasan hutan, wah dari judulnya saja saya sangat tertarik “ MENGAWAS” itu artinya saya bisa berkeliling berpatroli (membayangkan dengan menggunakan mobil patroli se[erti yang digunakan pak polisi), hahahahahaaaaa ternyata saya salah kaprah, ternyata Kabupaten Jeneponto gak dapat SAPRAS hanya karena belom memiliki POLISI HUTAN, saya pernah ikut pertemuan di propensi, tiap-tiap kabupaten menjelaskan dan melaporkan kegiatan-kegiatan polisi hutanyang mereka miliki, namun yang paling mencengangkan utnuk Kabupaten sinjai hingga kini memiliki POLISI HUTAN sebanyak 60 orang dengan luasan hutan yang masih kalah dengan hutan Kabupaten GOWA.  Miris hati, sedih hati, Kabupaten Jeneponto sangat miskin yach benar (untuk kali ini miskin POLISI HUTAN pantas kalo hutannya sudah jadi sawah dan kebun)

Akhir tahun 2010 Dinas kami kedatangan VSO (volunteer service organization) sedikit mencurigakan kenapa ada bule di kantor, sedikit heran dan gak percaya diri saya pun bergaul dengan mereka (ada bule lain di BAPPEDA) ternyata mereka sama seperti mereka, yang bedakan mereka dari negara yang miliki manajemen yang sudah sangat rapih dan kita masih membudidayakan kebiasaan buruk so misal janji dan tidak tepat waktu (panjang jika saya harus membahasnya mendetail). VSO ini memiliki keterampilan GIS( so pasti secara beliau sarjana fisika dan berkeahlian dibidang perencanaan lingkungan dan air), sedikit pendekatan, saya pun dipilih jadi murid percobaanya (katanya “kelinci coba”), tidak mengecewakan karena saya pun bisa membantunya mengajar dengan orang lain. Beliau membantu mengumpulkan data base kantor (hal ini penting tapi sapa yang peduli di dinas ini!!!), saya pun siap membantunya, maklum seksi PENGAWASAN pekerjaannya gak rumit hanya membalas surat yang masuk saja.  Mengumpulkan data itu berarti sudah ada data tapi harus dicari dimana data itu lalu dibukukan. Ok saya siap membantu, ternyata data yang ada saja namun tempatnya tersebar  membutuhkan waktu 6 bulan untuk setengah rampung, banyak kantor yang harus kami masuki, makassar-jeneponto semakin dekat terasa saking keseringan kami lalui (dengan motor).
 Tapi sayang beliau hanya mampu bertahan di kabupaten ini selama 9 bulan dengan masa kontrak 24 bulan, saya bertanya kenapa cepat pulang?????  Beliau jawab dengan senyuman, akupun mengerti apa maksudnya.   Sedikit keterampilan GIS, penggunaan GPS, analisa data yang setengah rampung itu cukup untuk saya.
Baru 4 hari beliau pergi, eh malah saya dapat tawaran job membantu BPDAS tuk mengukur ke area pencalonan HUTAN DESA, senaaaaang cos ini pertama kali saya ke lapangan dengan keterampilan baru dan lokasi baru dengan orang-orang baru juga. Yes...yes...saking semangatnya dalam keadaan puasa bukan penghambat, alhamdulillah puasanya bisa bertahan sampe azan maghrib.
Hutan Produksi di Desa Batu Jala,,,,
Masih sanksi dengan penggunaan kata “HUTAN”
Lihat saja foto di atas , layakkah dikatakan  HUTAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar